Apa saja yang jadi kewajiban istri terhadap suami?
Berikut
ulasannya.
Dalam
mengarungi kehidupan rumah tangga, suami digambarkan sebagai sosok pemimpin
keluarga dan pengambil keputusan. Peran istri tidak kalah penting, sebab akan
menjadi penasihat dan teman bertukar pikiran yang akan mempengaruhi sebuah
keputusan terbaik untuk kelangsungan rumah tangga yang harmonis.
Terlepas
dari adanya perbedaan mengenai bagaimana seorang istri menghabiskan waktunya
dengan berkarier di luar atau mengurus rumah dan keluarga, seorang istri akan
menjadi ibu sekaligus sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Oleh
karena itu, Islam mengajarkan kepada para suami untuk sebisa mungkin mencukupi
semua kebutuhan istri karena tugasnya sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya
sangat jauh dari kata mudah.
Setelah
mendapatkan fasilitas yang diberikan oleh suami, istri diharapkan dapat
memaksimalkan perannya sebagai pendamping suami maupun mentor bagi anak-anak.
Selain itu, membangun rumah tangga Islami dan berakhir bersama di surga adalah
tujuan utama yang mulia.
Di
balik peran dan hak tersebut, ada kewajiban istri terhadap suami yang harus dipenuhi.
Ini juga diatur cukup oleh beberapa sumber ajaran Islam, yakni menurtut
Al-Qur’an, hadis, hingga pendapat para ulama.
Istri
memang diwajibkan mentaati perintah suami. Namun, tidak semua perintah harus
ditaati, yaitu saat suami memerintahkan sesuatu yang dilarang oleh Allah dan
Rasul-Nya.
Rasulullah
SAW bersabda: “Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat. Ketaatan itu hanya
dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan),” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kewajiban Istri Terhadap
Suami
Selain
memiliki hak yang harus ditunaikan suami, istri juga memiliki kewajiban
terhadap suami yang tak bisa diabaikan. Berikut ini beberapa kewajiban istri
terhadap suami yang harus dilakukan.
1. Taat pada Suami
Ini
adalah kewajiban istri terhadap suami. Istri diwajibkan untuk selalu taat pada
suami kecuali dalam hal-hal yang melarang aturan agama dan atau kesusilaan.
Misalnya,
istri harus taat saat suami menyuruh untuk melaksanakan shalat di awal waktu,
melakukan ibadah dan melaksanakan kewajiban lain seperti menutup aurat, dan
lain sebagainya.
Meski
begitu, sebenarnya ada hal-hal yang bisa dibicarakan bersama. Sebab, istri
harus meminta izin kepada suami terkait apapun yang akan dilakukannya. Misalnya
terkait dengan pekerjaan, karir, keuangan, keluarga, pendidikan, dan sebagainya.
Ini
menunjukkan bahwa kata taat dalam hubungan suami istri bukan berlaku
instruksional dengan menempatkan seperti posisi atasan dan bawahan. Tetapi ini
lebih merupakan ajaran untuk melibatkan suami dalam pengambilan
keputusan-keputusan penting.
Tentu
saja dalam proses semacam itu, baik suami maupun istri sama-sama
menyuarakan pendapat sehingga dapat menghasilkan
keputusan terbaik dan tidak merugikan pihak manapun.
Allah
berfirman: “Maka istri-istri yang shaleh itu ialah yang taat kepada Allah
dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Oleh karenanya Allah telah
memelihara (menjaga) mereka,” (QS. An Nisa: 34)
2. Bermuka Manis dan Menyenangkan Suami
Kewajiban
istri terhadap suami selanjutnya adalah bermuka manis dan menyenangkan suami.
Perintah ini secara khusus berkaitan dengan psikologi perempuan yang terkadang
tidak stabil, baik karena faktor biologis maupun non-biologis. Untuk itu,
kewajiban istri terhadap suami lainnya adalah dapat mengontrol dan mengelola emosi sebaik mungkin.
Maksud
dari bermuka manis dan menyenangkan suami ini tentu bisa berbeda berdasarkan
kebiasaan dan pola dalam sebuah rumah tangga. Bagi seorang istri, menyenangkan
suami bisa dilakukan dengan memasak makanan kesukaannya.
Sedangkan
bagi istri lainnya, menyenangkan suami bisa berarti mengajak suami liburan, dan lain sebagainya.
Mengenai
hal ini, ada sebuah hadist dari Abu Hurairah RA, beliau mengatakan Rasulullah
SAW pernah bersabda: “Sebaik-baik perempuan ialah seorang perempuan yang
apabila engkau melihatnya, engkau merasa gembira. Jika engkau perintah, dia
akan mentaatimu. Dan jika engkau tidak ada di sisinya, dia akan menjaga hartamu
dan dirinya”.
3. Menjaga Harta, Rumah, dan Kehormatan Suami
Kewajiban
istri terhadap suami selanjutnya adalah menjaga harta, rumah, dan kehormatan
suami. Ini juga sebuah prinsip ini bersifat fleksibel sesuai dengan pola yang
berjalan dalam sebuah rumah tangga. Akan tetapi umumnya, istri diserahi tugas
untuk mengelola keuangan keluarga.
Menanggapi
hal ini, Imam Al-Ghazali, seorang ulama besar Islam mengatakan, “Di luar
uang untuk kepentingan keluarga, suami juga diwajibkan memberi uang kepada
istri sebagai ‘gaji’ karena telah menjaga rumah dan mengasuh anak, dalam kasus
istri yang tidak bekerja dan memilih untuk tinggal di rumah”.
Bagi
Al-Ghazali, uang untuk keperluan keluarga dengan uang nafkah untuk istri
pribadi harus dibedakan. Poin pentingnya adalah bahwa istri harus turut serta
aktif menjaga dan mengelola harta yang dimiliki sebuah keluarga.
Dengan
demikian, pembagian kerjanya adalah jika suami berupaya mendapatkan harta, maka
istri yang bertugas merawat dan menjaganya, bahkan jika mungkin
mengembangkannya.
Perintah
menjaga rumah sebagai salah satu kewajiban istri terhadap suami ini berlaku
untuk istri yang bekerja ataupun yang memilih untuk menghabiskan waktunya di
rumah. Perintah ini berkait erat dengan nilai etika lain yang diajarkan dalam
Islam
Salah
satunya adalah seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa izin suaminya,
apalagi membolehkan lelaki lain masuk ke dalam rumahnya ketika suami tidak ada.
Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab : 33).
Menjaga
kehormatan suami adalah tidak membeberkan aib suami pada orang lain. Sebab hal
ini secara tidak langsung menunjukkan kelemahan istri yang tidak bisa menjaga
rahasia keluarga. Selain itu, Ibnu Thaimiyah pun berkata dalam kitabnya:
“Tidak
halal bagi seorang istri keluar dari rumah kecuali dengan izin suaminya. Bila
istri keluar rumah suami tanpa izinnya, berarti dia telah berbuat nusyuz
(membangkang), bermaksiat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, serta pantas
mendapatkan siksa”.
4. Mencari Kerelaan dan Menghindari Kemarahan
Suami
Kewajiban
istri terhadap suami selanjutnya adalah mencari kerelaan dan menghindari
kemarahan suami. Kerelaan suami disebut sebagai tiket seorang istri untuk
meraih kebahagiaan akhirat dan mendapat surga. Karena itu, seorang istri harus
berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan kerelaan suami.
Ini
utamanya terkait dengan hal-hal di luar kewajiban istri terhadap suami,
seperti;
- Tindakan-tindakan
lain yang disenangi suami dan dapat membahagiakan
hatinya,
- Membantu
suami menyelesaikan pekerjaan,
- Mengatasi
masalah bersama,
- Terampil
mengurus rumah,
- Peka
terhadap kebutuhan suami, dan lain-lain.
Hal
penting terkait poin ini adalah, menghindari rasa marah suami. Sebab, jika
suami marah, maka hal itu tidak hanya akan menghapus usaha untuk mencari
kerelaan suami, tapi juga akan mengancam keutuhan rumah tangga.
5. Paham dalam Urusan Ranjang
Kewajiban
istri terhadap suami selanjutnya adalah paham dalam urusan ranjang. Dari Abu
Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Jika seorang pria mengajak istrinya ke
ranjang, lantas istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga
waktu shubuh” (HR. Bukhari dan Muslim).
Untuk
itu, istri harus dapat memenuhi kebutuhan suami di atas ranjang terkecuali ada udzur seperti
sakit, haid, nifas, dan lain-lain. Maka bicarakanlah secara
baik-baik dengan suami terkait hal tersebut.
Cara Menambah Rasa Bahagia Suami Istri
Saat
dapat memenuhi hak dan kewajiban istri terhadap suami serta sebaliknya, pasangan tersebut tentu akan memiliki
kebahagiaan yang dirasakan bersama. Menurut penelitian, ada beberapa hal lain
yang bisa menambahkan kebahagiaan tersebut, seperti;
- Memiliki
teman yang sama-sama telah menikah. Menurut penelitian dari Brown University, ada 75 persen lebih
mungkin untuk bercerai jika teman atau kerabat dekat telah melakukannya.
Peneliti mengatakan ini tentang konsekuensi dari hasil: ‘Kami menyarankan
bahwa menjaga kesehatan pernikahan kesehatan pernikahan teman mungkin
berfungsi untuk mendukung dan meningkatkan ketahanan hubungan sendiri’.
- Berjuang
bersama di awal. Dr.
Herb Goldberg, seorang psikolog menyarankan bahwa model hubungan sebaiknya
adalah mundur, yakni pasangan harus memiliki permulaan yang sulit yang
akan membuat mereka menyelesaikan masalah bersama, dan kemudian menantikan
kecenderungan yang panjang dan bahagia dalam keadaan hubungan tersebut.
Penelitian di Florida State Study menemukan bahwa
pasangan yang bisa marah secara terbuka pada awalnya, lebih bahagia dalam
jangka panjang.
- Pembagian
pekerjaan rumah. Menurut
sebuah studi UCLA, pasangan yang setuju untuk berbagi
pekerjaan di rumah cenderung lebih bahagia dalam hubungan. Mungkin hal
yang baik untuk duduk dan berdiskusi secara rutin.
- Berhubungan
seks rutin. Studi
yang berjudul "Money, Sex, and Happiness: An Empirical
Study" mengambil sampel 16.000 orang dewasa Amerika.
Salah satu kesimpulan utamanya: ‘Aktivitas seksual masuk secara sangat
positif dalam persamaan kebahagiaan'.
Itulah
beberapa kewajiban istri terhadap suami. Dengan terpenuhinya hak dan kewajiban
di antara suami dan istri, maka akan terciptalah keluarga yang sakinah,
mawadah, warahmah.











BERANDAKU
0 komentar:
Posting Komentar