Kabeloa

Album Foto Kabeloa.

Laboratorium Komputer

Siswa Aliyah sedang praktek.

Alam Sriyanto

Kepala M.A. Kabeloa Alkhairaat.

Mesjid Arrahman

Mesjid dalam lingkungan Pesantren Kabeloa Alkhairaat.

Bersama KH. Hasyim Muzadi

Foto bersama KH. Hasyim Muzadi.

Rabu, 29 Desember 2021

TOPONONDO, Beliau Salah Seorang Pembina Yayasan Pesantren Kabeloa Alkhairaat .

 






Kamis, 25 Maret 2021

𝘿𝙧. 𝙃. 𝘼𝙣𝙖𝙨 𝙔𝙖𝙡𝙞𝙩𝙤𝙗𝙖, 𝙎.𝙎𝙤𝙨. 𝙈𝙈 𝙙𝙞𝙡𝙖𝙣𝙩𝙞𝙠 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙎𝙚𝙠𝙧𝙚𝙩𝙖𝙧𝙞𝙨 𝘽𝙖𝙙𝙖𝙣 𝙆𝙚𝙩𝙖𝙝𝙖𝙣𝙖𝙣 𝙋𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙆𝙚𝙢𝙚𝙣𝙩𝙚𝙧𝙞𝙖𝙣 𝙋𝙚𝙧𝙩𝙖𝙣𝙞𝙖𝙣 𝙍𝙄

 


Menteri Syahrul Yasin Limpo, Lantik Anas Yalitoba Sebagai Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI

JAKARTA, - Berdasarkan Pasal 135 Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017, yang berbunyi setiap Pegawai Negeri Sipil yang diangkat menjadi pejabat pimpinan tinggi pratama wajib dilantik dan mengangkat sumpah / janji jabatan menurut agama atau kepercayaan kepada Tuhan yang maha esa.

Olehnya itu, Menteri Pertanian Republik Indonesia, Syahrul Yasin Limpo melantik dan mengambil sumpah jabatan terhadap para pejabat yang akan dilantik.

Adapun pejabat yang akan dilantik salah satunya adalah seorang putra daerah ``Asli Sigi`` atau yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi Dan Informatika Kabupaten Sigi, Dr. H. Anas Yalitoba.,S.Sos.,MM yang dilantik menjadi Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia,

``Semoga dengan jabatan yang saya emban ini, sektor pangan dibidang pertanian mampu mencapai hasil maksimal. Do'akan saya, agar mampu mengembangkan sumber daya yang dimiliki dan menjalankan organisasi ini secara maksimal. Semoga pengabdian ini menjadi ladang amal saya dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia," ucap Anas Yalitoba pada media ini, Kamis (25/3/2021) Pagi.

Menurut Anas, yang memiliki latar belakang sebagai dari seorang ``Anak Petani`` itu, setiap jabatan tidak akan berarti apa-apa jika dalam kenyataannya abdi negara tidak mampu memberikan kontribusi maksimalnya terhadap kemajuan bangsa,

``Jabatan itu hanya datang dari Tuhan. Bahwa segalanya sudah jadi takdir. Tapi seorang pejabat bukan untuk berleha-leha. Ini amanah dari Allah, dari Tuhan,`` katanya.

Dirinya berharap, produksi pertanian mampu melesat dalam posisi maksimal. Sekretaris Badan Ketahanan Pangan, Kementan RI itu ingin subsektor pertanian memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia, ``Ambil keputusan cepat dan jangan kita biarkan orang kelaparan. Kerja dengan fokus dan disiplin. Harus tau langkah - langkah kerja kongkritnya. Hebat itu kalau kita mau fokus. Fokus itu artinya tidak main - main. Tidak boleh korupsi dan harus melayani," terangnya

Pelantikan yang berlangsung di Ruang Pola Gedung A, Lantai 2, Kantor Pusat Kementerian Pertanian Republik Indonesia itu, dimulai Pukul 09.00 WIB sampai dengan selesai atau Pukul 10.00 WITA, yang disaksikan serta dihadiri langsung oleh sanak keluarga diantaranya Saudara, Istri, Anak dan Cucu beliau.

SUMBER : BID. PIKP / DISKOMINFO SIGI

Keluarga Besar Yayasan Pesantren Kabeloa Alkhairaat Pewunu mengucapkan Selamat kepada Ketua Yayasan Pesantren Kabeloa Alkhairaat Pewunu yang mendapat kesempatan dilantik sebagai Sekretaris Badan Ketahanan Pangan, Kementan RI.


Selasa, 23 Maret 2021

𝙎𝙚𝙟𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙏𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙨𝙖𝙡 𝙈𝙪𝙡𝙖 𝙈𝙖𝙨𝙪𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙏𝙖𝙣𝙖𝙢𝙖𝙣 𝘽𝙪𝙖𝙝 𝙆𝙪𝙧𝙢𝙖 𝘿𝙞 𝙉𝙚𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖

 


          Buah kurma merupakan salah satu buah yang sudah tidak asing lagi bagi kita masyarakat Indonesia, terutama ketika bulan Ramadhan tiba, maka kurma menjadi santapan favorit ketika berbuka puasa. rasanya yang manis legit menjadi ciri khas tersendiri dari buah yang satu ini.

Bagi kaum Muslim, buah kurma memiliki kedudukan yang sangat istimewa, hal ini dikarenakan buah kurma merupakan salah satu buah yang disebutkan dalam Al-quran bersama buah Tin, buah Zaitun, buah Anggur dan buah Pisang. Selain itu, buah kurma merupakan buah kegemaran Nabi Muhamad serta Nabi-nabi sebelumnya.

Taukah anda, sejak kapan buah kurma ini masuk ke Indonesia?. Sampai sekarang, para ilmuan pertanian di Indonesia masih terdapat beberapa pendapat mengenai sejarah atau asal muasal pohon kurma datang di Indonesia dan menjadi tanaman komersil bernilai jual sangat mahal terutama pada buahnya.

Pada awalnya, pohon kurma disebarluaskan ke Indonesia oleh pedagang besar dari Mesir dimana manfaat pohon kurma telah terkenal sejak jaman dahulu kala sebagai tanaman dengan buah multifungsi untuk kesehatan dan kecantikan tubuh seorang wanita.

Akan Tetapi, sejarah mengenai pohon kurma yang mampu berbuah di Indonesia dimulai tahun 2004 tepatnya di Surabaya, dikota pahlawan tersebut terdapat sebuah pohon kurma yang mampu tumbuh dengan kokoh di kebun belakang Pondok Pesantren Darussalam, Jalan Nginden II/7 Surabaya.

Sepintas, tak ada yang berbeda dari pohon yang merupakan ciri khas Timur Tengah tersebut. Namun bedanya, di pohon setinggi sekitar 3,5 meter itu muncul buah-buah warna hijau yang jumlahnya ratusan.

Ternyata, di pohon yang tumbuhnya tidak disengaja tersebut tumbuh buah kurma. Sebuah pemandangan yang hampir tidak lazim terjadi di Indonesia, mengingat pohon kurma tidak bisa berbuah di negeri ini.

“Kami juga terkejut saat melihat ada buah di pohon kurma. Padahal biasanya pohon kurma tidak bisa tumbuh buah dan hanya besar pohonnya saja. Ini sebuah anugerah Allah SWT,” ujar Ketua Yayasan Pondok Pesantren Darussalam, H. Mahsun Hadji, saat ditemui di kebunnya, Rabu.

Dijelaskan Mahsun, pohon kurma itu masih berusia tujuh tahun. Tumbuhnya pun tidak disengaja. Pohon itu tumbuh dari biji-biji yang dibuang pengasuh pondok pesantren setelah dimakannya.

“Kami meyakini kalau yang membuang biji di kebun itu KH Mas Abdul Muhith, pendiri sekaligus pemilik pondok pesantren. Biasa kan habis makan kurma, terus bijinya di buang di pekarangan belakang,” tutur dia.

Nah pada tahun 2011 Juga Pak Agus Jamil mulai mempopulerkan bahwa tanaman buah kurma mampu tumbuh dan berbuah dengan baik di Indonesi, beliau telah keliling diseluruh negara yang ditumbuhi kurma. Belia menemukan fakta bahwa kurma bisa berbuah dari suhu -5 C sampai 50 C dan dari ketinggian mulai 400 m sampai 1500 m dpl.

Kemudian pada tahun 2012, Bapak Muhaimin Iqbal yang selaku owner “Jonggol Farm” mulai mendatangkan bibit kurma kultur jaringan dan dibudidayakan di Jonggol Farm, karena melihat fakta kebun-kebun kurma di Thailand yang awalnya dari biji kemudian digantikan dengan bibit kultur jaringan yang lebih genjah, sudah pasti pohon betina dan produktifitasnya lebih tinggi, serta tingkat keberhasilanya sangat tinggi sehingga kemudian lahirlah istilah KURMA TROPIS.

Sejak tahun 2012 Tanaman buah KURMA TROPIS menjadi buah bibir di Indonesia dan puncaknya di 2014 dengan liputan Majalah pertanian Trubus tentang kebun kurma Tropis di Thailand, menjadi viral apalagi di era media sosial maka munculah group-group penggemar dan petani kurma seperti IDPA, Kurma Nusantara, Kurma Mania, Asosiasi Petani Kurma dan mulai mendatangkan dan mengebunkan kurma skala orchard.

Sejak saat itulah, Perkebunan tanaman kurma dalam skala Orchard pun mulai digalakan di Indonesia yang pertama di Jonggol Farm, Kemudian Igrow di pandeglang seluas 5 hektar dengan 700 pohon kurma kultur jaringan, ada juga di Bangka Botanical garden di eks Tambang Timah, kemudian Haji Ruslan di pasuruan 4 hektar dengan konsep Agrowisatanya, di Kuansing Riau seluas 40 hektar, Aceh dan Jambi di Tanjung Jabung Timur.

Sekarang ini, Demam kurma sudah melanda bangsa Indonesia, pohon yang penuh berkah ini akan menghiasi kekayaan hortikultura Indonesia dan digadang-gadang akan menjadi komoditi buah yang sangat menjanjikan.



𝐁𝐢𝐣𝐢 𝐊𝐮𝐫𝐦𝐚 𝐁𝐞𝐫𝐮𝐬𝐢𝐚 𝟐.𝟎𝟎𝟎 𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧 𝐁𝐞𝐫𝐡𝐚𝐬𝐢𝐥 𝐓𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐋𝐚𝐠𝐢

 



Pusat Penelitian Pengobatan Alami Louis L Borick yang berada di Yerusalem berhasil menanam tujuh pohon kurma dari biji berusia sekitar 2 ribu tahun di gurun Yudea, dekat Yerusalem, Israel.

Benih-benih tua ini ditemukan di gua-gua dan di istana kuno yang dibangun oleh Raja Herodes Agung pada abad ke-1 SM. Bisa dikatakan benih-benih kurma ini berasal dari era dimana Yesus hidup. Para peneliti menamaan kurma ini sebagai Adam, Jonah, Uriel, Boaz, Judith, dan Hannah.

Rim peneliti menggunTkan penanggalan radiokarbon untuk mengungkapkan tujuh biji berusia sekitar 2000 tahun. Analisis genetik menunjukkan bahwa beberapa di antaranya berasal dari pohon kurma betina yang diserbuki oleh telapak tangan pria dari berbagai daerah.

Temuan penelitian itu mengisyaratkan bahwa orang-orang Yudea kuno yang tinggal di daerah tersebut pada waktu itu menanam pohon menggunakan teknik pemuliaan tanaman yang canggih.

Berdasarkan catatan sejarah, kurma yang tumbuh di kawasan Yudea memiliki karakter berukuran besar, memiliki rasa manis, dan menjadi obat. Tidak seperti kurma Mesir, kurma Yudea dapat disimpan untuk waktu yang lama sehingga dapat diekspor ke seluruh Kekaisaran Romawi, seperti dilansir New Scientist.

"Kekayaan dari kurma Yudea  yang luar biasa adalah jus yang tidak berbahaya yang mereka keluarkan dan jenis rasa anggur yang sangat manis seperti madu" kata pencatat Romawi Pliny the Elder.

Peneliti Pusat Penelitian Pengobatan Alami Louis L Borick, Sarah Sallon dengan koleganya mengklaim menemukan bahwa biji kurma Yudea kuno lebih besar dari varietas modern.

Sallon dan rekan-rekannya juga sebelumnya menanam pohon kurma tunggal (Phoenix dactylifera) dari salah satu biji. Mereka saat ini telah berhasil menumbuhkan enam pohon kurma dari biji tersebut.

Proses penanaman dilakukan dengan dengan merendamnya benih kurma Yudea kuno ke dalam air, menambahkan hormon yang mendorong perkecambahan dan rooting, kemudian menanamnya di tanah di daerah karantina.

Mereka sekarang berharap untuk menciptakan kembali buah kurma kuno dengan menyerbuki betina dengan jantan. Sallon percaya kondisi panas dan kering gurun Yudea mungkin membantu melestarikan benih sisa begitu lama.

Tanaman kurma Yudea mulai padam setelah wilayah tersebut berperang dengan Roma pada abad ke-1 dan ke-2.

Benih kecambah tertua di dunia adalah biji teratai Tiongkok berusia 1300 tahun yang pulih dari hamparan danau kering di Tiongkok. Pada 2012, para peneliti di Rusia menumbuhkan bunga dari jaringan buah berusia 30.000 tahun yang pulih dari sedimen beku di Siberia.

Melansir The Guardian, pohon kurma diperkirakan pertama kali dibudidayakan di Arab dan Mesopotamia (sekarang Irak) lebih dari 6.000 tahun yang lalu dan pernah tersebar luas di Yudea kuno, wilayah Levant.

Selain sebagai makanan penting, kata Sallon, mereka digunakan untuk mengobati berbagai kondisi medis, termasuk depresi hingga penyakit yang menyerang ingatan.

Dalam jurnal Science Advances, Sallon dan rekan melaporkan bagaimana mereka menanam 32 biji kurma Yudea yang diambil dari berbagai situs arkeologi di seluruh padang pasir Yudea.

"Saya menghabiskan waktu berjam-jam di departemen arkeologi memilah-milah benih terbaik," kata Sallon.

"Banyak dari mereka memiliki lubang, tetapi beberapa benar-benar murni dan saya memilih yang terbaik." ujarnya.





Sumber : https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200206213340-199-472463/biji-kurma-berusia-2000-tahun-berhasil-tumbuh-lagi

Minggu, 21 Maret 2021

𝙋𝙤𝙝𝙤𝙣 𝙆𝙪𝙧𝙢𝙖 : 𝘽𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧 𝘽𝙚𝙧𝙥𝙧𝙞𝙣𝙨𝙞𝙥 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙆𝙚𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥𝙖𝙣

 


Pohon Kurma merupakan salah satu pohon yang dapat bertahan dalam kondisi yang ekstrem. Sama halnya dengan manusia, harus mempunyai prinsip yang kuat yang dapat bertahan dalam kondisi ekstrem sekalipun.

“Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma”

Siapa yang tidak mengenal pohon kurma? Tentu kita mengenalnya bukan, pohon kurma merupakan salah satu pohon yang buahnya sering digunakan sebagai takjil dalam bulan suci ramadhan. Pohon kurma dapat dijumpai di Timur Tengah yang dikenal dengan kondisi tanah yang kering, gersang bahkan gurun yang sangat panas dan hanya pohon kurma bisa bertahan pada kondisi ekstrem seperti itu. Menurut penelitian, pohon kurma dapat menancap dan dapat mencari air ratusan meter ke dalam tanah. Selain itu, petani kurma menanam pohon kurma dengan ditanam ke dalam tanah dengan kedalaman 2-3 meter lalu ditutup dengan bebatuan. Hal tersebut dilakukan agar pertumbuhan batang pohon kurma mengalami perlambatan dan akan menguatkan akar pada tanah.

Lalu, mengapa kita harus belajar dari pohon kurma?

Pohon kurma untuk tumbuh di daerah ekstrem membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Walaupun banyak hambatan mulai dari bebatuan atau pun mencari air dikedalaman ratusan meter. Ini sebuah pelajaran prinsip kehidupan yang luar biasa, kita harus sadar mengapa Allah kerap mengizinkan tekanan masalah hidup datang pada kita. Tekanan hidup itu semua  bukan untuk melemahkan dan menghancurkan kita, sebaliknya Allah mengizinkan tekanan hidup itu untuk membuat kita berakar semakin kuat. Belajar dari pohon kurma. Jadilah manusia yang tangguh dan tegar menghadapi beratnya tantangan masalah kehidupan. Milikilah cara pandang positif bahwa tekanan hidup tidak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi para pemenang kehidupan. Kita harus kuat, sabar dan yakin dengan yang rahmat Allah, seperti dinyatakan dalam ayat suci berikut :

“…dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, karena hanya orang-orang kafir yang berputus asa dari rahmat Allah.” (Qur’an Surat.Yusuf : 87).

Pohon kurma dapat tumbuh dikarenakan pondasi yang sangat kuat, yaitu akarnya. Sebuah Pondasi kehidupan yang begitu kokoh hingga menghasilkan buah-buah kehidupan yang begitu manis saat usianya dewasa hingga masa tuanya. Hendaknya manusia mengikuti yang dilakukan pohon kurma mempunyai pondasi yang kuat yang berdasarkan ilmu pengetahuan dengan pondasi yang kokoh ini dapat membuat hidup kita kokoh dan tidak akan tergoyah akan hal-hal yang dilarang oleh agama karena agama adalah pondasi terkuat. Selain itu, pohon kurma juga dibahas didalam Al-Qur’an, beberapa ayat yang mengandung isi pohon kurma : 

"Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang."

 (QS. Ar-Rahman: 11)

Menurut  (QS. Ar-Rahman: 11), secara langsung Allah SWT menyebutkan buah kurma secara khusus dikarenakan mempunyai kemuliaan dan manfaat yang baik baik ketika masih basah maupun ketika kering. Makna yang dapat diambil, kita manusia harus mempunyai kemuliaan dan dapat bermanfaat bagi orang lain.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim 24-25)

Berdasarkan ayat diatas, dapat ditafsirkan bahwa pohon kurma mesti memiliki akar, pangkal batang, cabang, daun dan buah, demikian juga pohon keimanan, memiliki pokok, cabang dan buah. Pokok imam adalah rukun iman yang enam dan cabangnya adalah amalan saleh dan aneka ragam ketaatan dan ibadah. Sedangkan buahnya adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang didapatkan seorang mukmin di dunia dan akhirat.

 

Pohon kurma tidak akan bertahan hidup kecuali dengan disiram dan dipelihara. Disiram dengan air, jika tidak maka akan kering dan jika ditebang maka mati. Demikian juga seorang mukmin tidak dapat hidup yang hakiki dan istiqomah kecuali dengan siraman wahyu.

𝔽𝕒𝕝𝕤𝕒𝕗𝕒𝕙 𝕡𝕠𝕙𝕠𝕟 𝕂𝕦𝕣𝕞𝕒

 



Di tengah gurun pasir yg jarang ada air dan bercuaca panas, pohon kurma bisa tumbuh dan berbuah. Keberadaan pohon kurma di hamparan gurun pasir yang seolah tak berujung akan menjadi tanda harapan bagi orang-orang yang tersesat di tengah gurun, pertanda masih ada harapan hidup untuk melanjutkan perjalanan hingga ke tempat tujuan, tersedia buah kurma dan air sebagai sumber makanan & minuman .  Pohon Kurma yang tumbuh di gurun pasir merupakan satu-satunya tanaman yang mampu bertahan hidup dalam kondisi ekstrim seperti itu itu dan tidak tumbang meskipun terjadi badai pasir yang sering terjadi disana.

Apa sebabnya pohon kurma bisa kuat seperti itu?

Berdasar penelitian para ahli, akar pohon kurma bisa tertanam dan tumbuh hingga puluhan bahkan ratusan meter ke dalam tanah hingga menemukan sumber air. Pohon kurma yang tumbuh di tengah gurun pasir memberikan sebuah pertanda bahwa di bawah permukaannya ada air.

Bagaimanakah cara pohon kurma tumbuh di tengah gurun pasir?

Pohon Kurma tumbuh di tengah gurun pasir bukan dengan menumbuhkan tunas terlebih dahulu seperti pohon buah pada umumnya, melainkan akan menumbuhkan akar terlebih dahulu ke dalam tanah sampai menemukan air, tak peduli berapa dalam sumber air itu ada maka sedalam itulah akar kurma akan tumbuh. Baru Kemudian ia akan menumbuhkan tunas dan batang nya ke atas.

Cara menanam biji kurma di tengah gurun dengan cara ditanam di dalam tanah sedalam 2-3 meter, kemudian ditimbun dengan bebatuan. Setelah akar yang tumbuh ke dalam tanah menemukan sumber air, maka biji kurma itu akan menumbuhkan tunas dan memecahkan bebatuan yang menimbunnya hingga tunas nya tumbuh dan hidup berjuang tak kenal rasa takut akan hawa panas karena sudah mempunyai modal yang kuat yaitu akar yang begitu panjang dan dalam hingga ke sumber mata air di bawah gurun pasir.

mengapa biji yang ditanam tersebut harus ditutup batu ?

Saat biji mulai bertunas, batu tersebut akan membuat pertumbuhan batang terhambat.  Justru karena pertumbuhan batang mengalami hambatan, hal tersebut membuat pertumbuhan akar ke dalam tanah menjadi maksimal. Setelah akarnya menjadi kuat maksimal, barulah biji kurma itu bertumbuh ke atas dengan perjuangan keras pula, yang bisa membuat batu tersebut jadi terguling atau bahkan pecah.

Apa hikmahnya ?

“Biji pohon kurma yg ditutup batu, akan mengalami tekanan dari atas, supaya bisa mengakar kuat ke bawah”.

Ini sebuah pelajaran prinsip kehidupan yang luar biasa, kita harus sadar mengapa Allah kerap mengizinkan tekanan masalah hidup datang pada kita. Tekanan hidup itu semua  bukan untuk melemahkan dan menghancurkan kita, sebaliknya Allah mengizinkan tekanan hidup itu untuk membuat kita berakar semakin kuat.

“tidak sekedar bertahan, tapi ada waktunya benih yang sudah mengakar kuat itu akan menjebol ” batu masalah “ yang selama ini menekan kita, sehingga kita pun keluar menjadi pemenang kehidupan.

Belajar dari pohon kurma. Jadilah manusia yang tangguh dan tegar menghadapi beratnya tantangan masalah kehidupan. Milikilah cara pandang positif bahwa tekanan hidup tidak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi para pemenang kehidupan.

Kita harus kuat, sabar dan yakin dengan yang rahmat Allah, seperti dinyatakan dalam ayat suci berikut;  “…dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, karena hanya orang-orang kafir yang berputus asa dari rahmat Allah.” (Qur’an Surat.Yusuf : 87)

Untuk punya kekuatan untuk bisa menghadapi “tekanan” tersebut, manusia harus memiliki “akar” yang kuat. Dalam hidup ini yang dimaksud akar, ialah keyakinan pada Allah dan ilmu.

Pohon kurma bisa tumbuh kuat karena memiliki akar pondasi yang kokoh tahu akan sumber kebenaran yaitu Allah yang menciptakan air kehidupan. Maka ia tumbuh dengan begitu kuat dan kokoh di atas kebenaran. Sebuah Pondasi kehidupan yang begitu kokoh hingga menghasilkan buah-buah kehidupan yang begitu manis saat usianya dewasa hingga masa tuanya.

Hendaknya hidup kita sebagai manusia pun demikian halnya seperti pohon kurma yang tumbuh di tengah gurun pasir. Di dalam bidang kehidupan apapun, kuatkanlah terlebih dahulu pondasi kehidupan kita berdasarkan petunjuk dari Allah, beragama. Dengan pondasi hidup yang kuat dan kokoh, goncangan dan terpaan yang bagaimanapun tidak akan menggoyahkan kita dalam menjalani kehidupan ini.

Secara sosial, keluarga, kerabat, teman dan relasi adalah juga akar kita, mereka lah yang akan membantu kita dalam menghadapi setiap permasalahan kehidupan.  Orang yang cenderung hidup individualis, hidup sendiri tak mau bersosialisasi akan mengalami kesulitan saat menghadapi masalah.

Hikmah lain dari pohon kurma ialah buahnya yang manis.

Sungguh sebuah karunia Allah yang besar betapa pohon kurma, walaupun berada di tempat yang jarang ada air dan bercuaca panas, tapi buahnya manis sekali, daripada ia mengambil nutrisi makanan nya ?  Allah maha tahu dengan ciptaan Nya.

Buah kurma yang manis hanya tumbuh setahun sekali saat puncak musim panas sekitar bulan Juni-Agustus. Bunga kurma mulai tumbuh sekitar bulan Maret, kemudian terjadi pembuahan saat bulan April dan buah kecilnya mulai tumbuh sekitar bulan May dan matang sekitar bulan July-Agustus saat puncak musim panas, dimana suhu di gurun pasir bisa sampai 50 derajat celcius.

Harap diketahui pohon kurma ini cukup unik, dimana ada jenis pohon jantan dan betina nya, bunga dan tandan dari kedua jenis pohon ini harus bertemu agar terjadi penyerbukan. Secara alami hal tersebut terjadi dengan bantuan binatang spt burung2 atau lebah dll atau bisa juga dg bantuan angin. Sekitar bulan Maret-April, saat pergantian musim dingin ke musim panas di gurun pasir biasa terjadi badai pasir (sand storm), pada saat itu pula lah terjadi penyerbukan pohon kurma oleh angin tersebut. Para petani kurma melakukan penyerbukan dengan menaburkan tandan bunga dari pohon jantan pada pada bunga pohon betina. Pohon berjenis betina lah yang berbuah, ada kemiripan dg pohon salak.

Proses penyerbukan pohon kurma ini sempat diabadikan pula pada sebuah hadits nabi yang mengisahkan kejadian di jaman Rasulullah saw, saat para sahabat petani menanyakan masalah hal tersebut pada nabi.

Dari Anas ra. dituturkan bahwa Nabi saw. pernah melewati satu kaum yang sedang melakukan penyerbukan kurma. Beliau lalu bersabda, “Andai kalian tidak melakukan penyerbukan niscaya kurma itu menjadi baik.” Anas berkata: Pohon kurma itu ternyata menghasilkan kurma yang jelek. Lalu Nabi saw. suatu saat melewati lagi mereka dan bertanya, “Apa yang terjadi pada kurma kalian?” Mereka berkata, “Anda pernah berkata demikian dan demikian.” Beliau pun bersabda, “antum a’lamu bi umurid duniya kum” (“Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.”) (HR Muslim), sebuah hadits yg terkenal.

Buah kurma yang manis kaya protein, bisa tahan lama. Buah ini lah yang jadi sumber makanan bagi para pengembara gurun pasir dalam perjalanan jauhnya melintas gurun pasir. Bayangkan misalnya buah yang banyak air seperti buah jambu atau pisang, dibawa oleh pengembara gurun pasir, kemungkinan akan cepat busuk tak tahan lama. Sungguh maha bijaksana Allah dengan hasil ciptaan Nya, semuanya sudah diatur sesuai ketentuan nya.

Buah pohon kurma yang manis tumbuh saat puncak musim panas dari pohon yang mengalami tempaan yang kuat pula, di tempat yang jarang air dan bercuaca panas.

Hikmahnya dalam hidup ini, hakikat manisnya kehidupan akan terasa setelah perjuangan berat yg kita lalui, subhanallah

Demikianlah cerita tentang pohon kurma, betapa banyak hikmah yang tersimpan, jadi pelajaran bagi kita semua, alam terkembang jadi guru, subhanallah

Renungan dari gurun pasir Ruwais, di tepian empty quarter desert ( gurun pasir hampa) Abu Dhabi, UAE.

𝔽𝕚𝕝𝕠𝕤𝕠𝕗𝕚 ℙ𝕠𝕙𝕠𝕟 𝕂𝕦𝕣𝕞𝕒



Hidup di gurun pasir yang gersang, batang menjulang tinggi kelangit, pelepah dan daun yang lebat memberikan keteduhan. Berbuah yang manis dan berkhasiat. Hidup sejak zaman para. Pelepahnya dijadikan alas tidur para kekasih Allah, Itulah pohon kurma.

Kurma (Phoenix dactylifera = date palm) adalah keluarga palma (palem) yang berasal dari jazirah Arab dan Afrika Utara. Dia merupakan tumbuhan gurun yang tahan panas, kelembapan rendah dan udara kering. Namun untuk bisa tumbuh baik, pohon kurma tetap memerlukan air. Itulah sebabnya kurma tumbuh di oasis atau kawasan yang memperoleh pengairan teknis. Tumbuhan ini sudah dibudi dayakan semenjak ribuan tahun sebelum Masehi. Saat ini kurma telah menyebar ke India, Cina, AS (California) dan Australia.
Ada kata2 bijak kuno yang mengatakan bahwa " orang benar akan bertunas seperti pohon korma "

Tak berlebihan jika pohon kurma dianggap sebagai pohon yang tahan banting. Kekuatan pohon korma ada di akarnya. Sebab pohon kurma dapat hidup pada kondisi tanah yang kering, gersang, tandus & kerap dihantam badai gurun yang dahsyat.

Pohon kurma disebut dalam Al Qur`an sebanyak dua puluh kali. Lima belas ayat menyebutnya bersama dengan tumbuhan lainnya, sebagai karunia Allah bagi umat manusia. QS. AL AN`AM : 99, QS. AL AN`AM : 141, QS. AL KAHFI : 32, QS. THAHA : 71, QS. ASY SYU`ARA : 148, QS. QAMAR : 20, QS. AR RAHMAN : 11, QS. AR RAHMAN : 68, QS. AL HAQQAH : 7, QS. ABASA : 27-29, QS. MARYAM : 23, QS. MARYAM : 25, QS. AL BAQARAH : 266, QS. AR RA`D : 4, QS. AN NAHL : 11, QS. AN NAHL : 67, QS. AL ISRA` : 91, QS. AL MU`MINUN : 19,, QS. YASIN :34, QS. IBRAHIM : 24

Petani di Timur Tengah menanam biji kurma ke dalam lubang pasir lalu ditutup degan batu. Mengapa biji itu harus ditutup batu ?  Ternyata, batu tersebut memaksa pohon korma berjuang untuk tumbuh ke atas. Justru karena pertumbuhan batang mengalami hambatan, hal tesebut membuat pertumbuhan akar ke dalam tanah menjadi maksimal. Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon korma itu bertumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yg menekan diatasnya. Ditekan dari atas, supaya bisa mengakar kuat ke bawah.

Bukankah itu prinsip kehidupan yang luar biasa ?

Sekarang kita tahu mengapa Allah SWT kerapkali mengijinkan tekanan hidup datang kepada manusia. Bukan untuk melemahkan & menghancurkan kita, namun sebaliknya Allah SWT mengijinkan tekanan hidup itu untuk membuat kita berakar makin kuat. Tak sekedar bertahan, tapi ada waktunya benih yang sudah mengakar kuat itu akan menjebol "batu masalah" yang selama ini menekan kita. Kita keluar menjadi pemenang dalam kehidupan.


Allah SWT mendesain kita seperti pohon korma. Sebab itu jadilah tangguh, kuat & tegar menghadapi beratnya kehidupan, cobaan yang kian datang menghampiri. Milikilah cara pandang positif bahwa tekanan hidup atau cobaan hidup tak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi pemenang-pemenang kehidupan.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dari filosofi pohon kurma, memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang positif, selalu bersama Allah SWT dalam menghadapi dan melewati cobaan-cobaan hidup. Karena kita yakin ada tempat-tempat yang indah, yang tak pernah terbayangkan di mata manusia bagi orang-orang yang mampu melewati cobaan tanpa kehilangan Allah SWT.

Semoga bermanfaat...

𝙄𝙡𝙢𝙪𝙬𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙧𝙝𝙖𝙨𝙞𝙡 𝙏𝙪𝙢𝙗𝙪𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙋𝙤𝙝𝙤𝙣 𝙆𝙪𝙧𝙢𝙖 𝘿𝙖𝙧𝙞 𝘽𝙞𝙟𝙞 𝙔𝙖𝙣𝙜 𝘽𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙡 𝘿𝙖𝙧𝙞 𝙕𝙖𝙢𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙗𝙞 𝙄𝙨𝙖

 


Tim ilmuwan di Israel berhasil menumbuhkan tujuh pohon kurma yang berasal dari biji berusia 2.000 tahun yang ditemukan di kawasan Yudea dekat Yerusalem.

Hasil analisis menunjukkan biji-biji kurma ini berasal dari zaman Nabi Isa.Biji ini merupakan bagian dari ratusan biji yang ditemukan di gua-gua dan istana kuno yang dibangun oleh Raja Herod Agung pada abad pertama masehi.

Proses ini merupakan penumbuhan tumbuhan yang dihasilkan oleh bibit tertua yang pernah berhasil dilakukan oleh manusia.Sebelumnya, satu pohon kurma juga berhasi ditumbuhkan oleh tim ilmuwan yang sama.

Dr Salah Sallon dari Louis L Borick Natural Medicine Research Center di Yerusalem mengatakan biji kurma kuno ini dipersiapkan dengan merendamnya di dalam air.

Kemudian hormon ditambahkan untuk memudahkan tumbuhnya kecambah dan akar pada biji itu, sebelum ditanam di tanah dan ditempatkan di satu karantina.

Tim ilmuwan ini menggunakan sistem penginderaan radio karbon untuk mengungkapkan usia tujuh biji kurma yang mereka tanam, dan menyimpulkan usia mereka sekitar 2.000 tahun.

Analisis genetik memperlihatkan beberapa dari biji ini dihasilkan dari pohon kurma perempuan yang dibuahi oleh kurma jantan yang berasal dari berbagai daerah berbeda.

Temuan ini mengindikasikan bahwa penduduk Yudea yang hidup pada masa itu menumbuhkan tanaman mereka dengan menggunakan teknik penyilangan tanaman yang cukup canggih.

Beberapa catatan sejarah mengenai kurma yang tumbuh di kawasan ini digambarkan sebagai besar, manis dan memiliki kemampuan penyembuhan atau pengobatan.

Catatan penulis Romawi Plinius Secundus menyebutkan bahwa kurma di kawasan ini punya “karakter istimewa dengan jus yang manis dan rasa seperti madu”.

Berbeda dengan kurma dari Mesir, kurma kawasan ini bisa disimpan dalam waktu lama, sehingga bisa diekspor ke seluruh kawasan kekuasaan kekaisaran Romawi.

Sallon dan timnya melaporkan dalam jurnal ScienceAdvances bahwa mereka menanam 32 biji kurma yang diambil dari beragam situs arkeologis yang ada di Gurun Yudea.

Termasuk biji yang berasal dari Masada dan gua di Qumran yang dikenal sebagai tempat ditemukannya Gulungan Laut Mati, yang juga digunakan oleh pengungsi di masa kuno.

“Saya menghabiskan waktu berjam-jam di departemen arkeologi memilih biji-biji yang terbaik,” kata Sallon seperti dikutip koran Inggris, The Guardian.

“Banyak dari biji-biji ini berlubang dan dimakan oleh serangga, atau hancur berantakan. Namun beberapa masih sangat bagus dan saya pilih yang terbaik untuk ditumbuhkan,” ungkap Sallon.

Sallon dan rekan-rekannya menyatakan bahwa biji dari kawasan Yudea kuno ini lebih besar daripada kurma modern, yang menandakan bahwa buahnya juga lebih besar.

Kini mereka berharap bisa menumbuhkan buah kurna dengan melakukan penyerbukan kurma betina dengan kurma jantan.

Pohok kurma Yudea mulai mati saat terjadi perang di wilayah itu dengan Romawi pada abad perdama dan kedua masehi.

Menurut Sallon, cuaca Gurun Yudea yang panas mungkin mendukung awetnya biji kurma itu dalam rentang waktu ribuan tahun.

𝔻𝕒𝕞𝕡𝕒𝕜 ℙ𝕖𝕣𝕘𝕒𝕦𝕝𝕒𝕟 𝔹𝕖𝕓𝕒𝕤

 


Beberapa dampaknya meliputi beberapa hal seperti:

1. Ketergantungan Obat

Dimulai dari coba-coba yang berakhir menjadi ketagihan atau ketergantungan. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian.

2. Adanya Seks Bebas

Hal yang berujung pada kehamilan di luar nikah memang sudah menjamur kasusnya. Inilah bahaya yang timbul dari pergaulan bebas.

3. Kriminalitas Meningkat

Berusaha mendapatkan apa yang sangat diinginkan, seperti halnya sedang sakaw karena tidak mendapat barang dikarenakan materi yang tidak cukup. Hal ini dapat memicu terjadinya pencurian, perampokan, dan lain-lain.

4. Kesehatan Menurun

Terserang penyakit berupa HIV AIDS karena melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berbeda-beda. Hal ini tentu dapat merusak generasi bangsa.

5. Menurunnya Prestasi

Seseorang yang telah terjerumus ke dunia bebas maka akan cenderung malas untuk meraih prestasi.

6. Hubungan Keluarga yang Renggang

Dapat timbul karena broken home ataupun suatu hal yang menyebabkan anak tersebut kehilangan rasa hormat kepada orang tua yang menyebabkan renggangnya hubungan keluarga.

7. Berdosa

Perbuatan yang melanggar aturan dari sebuah agama tentu akan menimbulkan dosa.

𝗖𝗮𝗿𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗯𝗮𝗵𝗮𝘆𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗴𝗮𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗯𝗮𝘀

 



1. Jujur Pada Diri Sendiri

Harus memikirkan secara sehat, sejatinya seorang mengerti baik buruknya suatu hal.

2. Memperbaiki Cara Pandang

Selalu berpikiran positif dan optimis. Tidak boleh memikirkan hal yang dapat membawa ke arah jalan yang salah.

3. Memiliki Kegiatan yang Positif

Hal ini tentu dapat mengalihkan dari hal yang tidak bermanfaat atau cenderung merugikan.

4. Menjadi Pribadi yang Taat

Maksudnya adalah taat pada perintah Nya agar tidak sekali-kali mencoba hal yang bertentangan sesuai dengan syariat agama.

5. Berpikir Maju

Selalu berpikiran ke depan agar tidak mudah goyah dan terlena akan kesenangan sesaat yang dapat menjerumuskan anda.

6. Menjaga Keseimbangan Hidup

Dapat mengontrol pola pikir, emosi, waktu agar menjadikan di tiap hari-harinya lebih bermanfaat.

7. Sosialisasi

Memberikan informasi kepada masyarakat sekitar tentang bahaya dari pergaulan bebas yang dapat merusak generasi bangsa.

8. Perbanyak Membaca

Semakin banyak membaca, maka secara langsung akan menambah ilmu. Hal ini menjadikan seseorang menjadi pemahaman yang lebih agar tidak mudah terjerumus ke dalam hal yang negatif.

9. Menjalin Komunikasi yang Baik

Menjalin komunikasi yang baik merupakan suatu langkah yang bagus untuk terhindar dari pergaulan yang merugikan.

10. Mengurangi Menonton Acara yang Tidak Baik

Sangat sangat disarankan untuk mengurangi menonton acara yang mengandung unsur kekerasan maupun pornografi.

Itulah penjelasan singkat dari cara mengatasi bahaya pergaulan bebas yang banyak menimpa remaja khususnya di Indonesia sendiri.

Sabtu, 20 Maret 2021

Kisah Rasulullah Berobat pada Pendeta ketika Sakit Mata

 


Sama seperti manusia biasa, Nabi Muhammad saw juga pernah mengalami sakit meski tidak begitu parah. Nabi Muhammad kita kenal sebagai figur yang sangat memperhatikan kesehatan tubuhnya.

Kendati Nabi Muhammad saw pernah sakit, tentu hal itu tidak menurunkan derajatnya sebagai utusan Allah Swt.

Dikisahkan dalam Al-Manhal Al-Adzb Al-Maurud syarah Sunan Abi Dawud (juz 9, hlm 98), Syekh Mahmud Muhammad Khithab Al-Subkhi menjabarkan pengalaman Nabi Muhammad saw sewaktu kecil yang pernah mengalami sakit mata.

Menurut penuturan Ibnu Al-Jauzi, ketika Nabi saw berumur 7 tahun, beliau pernah sakit mata di mana banyak tabib (dokter) di Kota Makkah tidak memiliki obat yang mujarab. Nabi yang saat itu diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib kemudian mendapat saran dari penduduk setempat agar berobat ke daerah Ukaz.

Ukaz adalah pasar zaman dahulu yang terkenal di Semenanjung Arabia di mana terdapat seorang pendeta Nasrani yang pandai mengobati penyakit. Pasar tersebut lebih tepatnya terletak diantara Thaif dan Makkah yakni di kota Al-Athdia.

Atas saran dari orang-orang sekitar, akhirnya kakek Nabi saw segera bertolak menuju Ukaz untuk menemui pendeta yang dimaksud. Sesampainya di sana, Abdul Muthalib langsung menuju rumah pendeta itu dan mengetuk pintu rumahnya yang tertutup.

Karena kehadiran Nabi dan kakeknya tidak kunjung mendapat jawaban, mereka pun kecewa dan nyaris pulang kembali ke Kota Makkah dengan tangan hampa. Beruntung pendeta itu segera keluar lalu menjumpai Nabi saw dan Abdul Muthalib sembari menjelaskan bahwa kehadiran mereka dari Makkah telah menyelamatkannya dari reruntuhan rumah yang roboh karena gempa.

"Tadi rumahku berguncang, hampir roboh. Kalau saja aku tidak keluar menjumpaimu, pasti aku sudah tertimbun reruntuhan rumahku,” kata pendeta itu.

Tidak berselang lama, pendeta itu berpesan kepada Abdul Muthalib agar merawat cucunya karena Nabi Muhammad saw kelak akan menjadi pemimpin umat dan ahlul kitab tidak akan ada yang sanggup mencelakainya.

Pendeta itu pun memberikan suatu ramuan setelah dirinya memeriksa mata Nabi Muhammad saw.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa obat sakit mata Nabi Muhammad saw adalah ludahnya sendiri.

"Wahai Abdul Muthallib, setiap kali aku mengobati pasien sakit mata, pasti aku bersumpah pada Allah berwasilah dengan nama cucumu ini (Muhammad saw)," kata pendeta itu.

Wallahu a'lam

𝘼𝙥𝙖𝙥𝙪𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖, 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙪𝙩𝙪𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙡𝙞 𝙨𝙞𝙡𝙖𝙩𝙪𝙧𝙧𝙖𝙝𝙞𝙢

 



          Makna silaturahmi dalam masyarakat Indonesia dipahami sebagai aktivitas berkunjung atau bertemu dengan seseorang, baik seorang kerabat maupun bukan kerabat untuk menjaga sebuah ikatan batin persaudaraan.

Namun belakangan ini, berbedanya pandangan sering kali dijadikan sebuah dasar untuk memutuskan silaturahmi. Berkembangnya teknologi yakni media sosial juga menjadi alat yang sering kali digunakan untuk memutus tali silaturahmi. Fitur blokir, unfriend, yang berujung putusnya tali silaturahmi hanya karena perbedaan pandangan berujung putusnya hubungan di dunia nyata.

Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali persaudaraan.” (HR. Bukhari Muslim).

Salah seorang Hamba Allah mengatakan silaturahmi dalam pandangan masyarakat Indonesia adalah berkunjung. Sedangkan dalam bahasa Arab adalah menyambung hubungan kekerabatan dengan leluhur, pada utamanya adalah ibu. Dalam pandangan Islam memutus silaturahmi sangat tidak tepat.

“Kalau memutus silaturahmi biasanya terjadi karena salah paham hingga terjadinya permasalahan. Namun harus ditanyakan terlebih dahulu informasi yang membuat salah paham itu benar atau tidak. Tabayun terlebih dahulu jangan sampai salah paham atau sepihak,” ujarnya.

Ia menambahkan apabila setelah dilakukannya tabayun, pendapat salah seorang pihak lebih kuat dan baik maka pendapat yang kurang baik itu harus menerima. Sehingga hal itu membuat tidak terjadinya putusnya silaturahmi.

Rasulullah bersabda, “Tidak ada satu dosa yang lebih pantas untuk disegerakan hukuman bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan hukuman yang Allâh siapkan baginya di akhirat daripada baghyu [kezaliman dan berbuat buruk kepada orang lain] dan memutuskan kerabat.” (HR. Bukhari)

Ia menambahkan, fenomena hijrah atau berpindahnya dari tempat yang kurang baik menuju tempat yang baik dan tetap harus menjaga jarak namun tidak harus memutus silaturahmi. Menurutnya, apabila seseorang hijrah namun tetap berkumpul di lingkungan yang kurang baik maka akan ada suatu pengaruh yang kurang baik pula.

Pada saat ini dalam menjelang pemilu sering kali terjadi perdebatan perbedaan pilihan dan berujung pada putusnya tali silaturhami. Putusnya komunikasi yang sering kali terjadi berawal dari sosial media seakan lupa bahwa sesama muslim adalah saudara.

Ia menambahkan agama Islam tidak mengajarkan untuk menghujat atau bahkan mencela karena beda pandangan. Menurutnya, Rasulullah datang untuk memperbaiki akhlak, sebagai muslim harus selalu menyadari hal itu sehingga selalu berusaha untuk berakhlak yang baik.

Allah berfirman, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS: Muhammad: 22-23)

Allah jelas melarang memutus hubungan silaturahmi baik kepada saudara kandung maupun kerabat. Segala perbedaan adalah wajar yang datangnya dari Allah. Manusia hendaknya berpegang teguh pada Alquran yang jelas menegaskan Allah tidak menyukai perbuatan memutus tali silaturahmi. Menyambung tali silaturahmi akan membawa manfaat selain dilimpahkannya pahala. Rasulullah bersabda, “Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari Muslim)

Allah akan memberikan ganjaran yang menunaikan kewajibannya dengan surga. Dalam hadis tersebut Rasulullah menyebut bahwa menyambung tali silaturahmi merupakan tuntunannnya yang kelak di akhirat segala sesuatunya akan diperhitungkan.

Rabu, 17 Maret 2021

𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙎𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙎𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙃𝙖𝙢𝙗𝙖-𝙉𝙮𝙖 𝙈𝙚𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝𝙞 𝙆𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙎𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙄𝙗𝙪

          


         Seorang hamba harus mengenal Rabb-nya, harus mengenal Allah, agar ia cinta kepada Allah dan Allah cinta kepadanya. Perlu diketahui dari salah satu sifat Allah bahwa Allah sangat sayang kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya. Kita sangat tahu bagaimana kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang mungkin tidak ada tandingannya di dunia ini, akan tetapi kita sangat perlu tahu bahwa kasih sayang Allah melebihi itu semua.

Perhatikan hadits berikut, Dari Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu , beliau menuturkan:

ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺒﻲ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﻗﺪ ﺗﺤﻠﺐ ﺛﺪﻳﻬﺎ ﺗﺴﻘﻲ، ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺻﺒﻴﺎً ﻓﻲ
ﺍﻟﺴﺒﻲ ﺃﺧﺬﺗﻪ، ﻓﺄﻟﺼﻘﺘﻪ ﺑﺒﻄﻨﻬﺎ ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : (ﺃﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺎﺭﺣﺔ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ). ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻭﻫﻲ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻄﺮﺣﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya.

Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami,
“Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”

Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila seorang Ibu tersebut tidak tega melempar anaknya ke dalam api, maka Allah tentu lebih tidak tega lagi melempar dan mencampakkan hamba-Nya ke dalam api neraka, akan tetapi apa yang terjadi? Hamba tersebut tidak mau mengenal Allah, tidak peduli kepada Allah dan agama-Nya, bahkan ia lari jauh dari Allah. Bagaimana Allah bisa sayang kepada hamba tersebut?

Kita diperintahkan untuk mengenal Allah dan “lari” menuju Allah. Allah berfirman,

فَفِرُّوا إِلَى اللهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

“Maka segera berlarilah kalian (kembali) menuju Allah. Sungguh aku (Rasul) seorang pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kalian.” (adz-Dzaariyaat: 50)

 

Hendaknya tidak terlalu yakin bahwa kita hamba kesayangan Allah

Maksudnya adalah jangan sampai kita tertipu dengan berbagai nikmat dan kemudahan yang diberikan oleh Allah di dunia ini. Hendaknya kita TIDAk HANYA bersandar dengan sifat “Allah sangat sayang kepada hamba-Nya” yang menyebabkan kita lupa dan lalai bahwa Alah juga memiliki azdab yang besar dan pedih.

Allah berfirman,

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ . وَ أَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الأَلِيمَ

Artinya: “Kabarkanlah pada para hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih”. (Q.s. Al-Hijr: 49-50).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan bagaimana kasih sayang dan adzab Allah. Beliau bersabda,

لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ

“Andaikan mukmin mengetahui azab yang disediakan Allah; niscaya tidak ada seorangpun yang berharap bisa mendapatkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui kasih sayang yang ada pada Allah; niscaya tak ada seorangpun yang tidak berharap bisa meraih surga-Nya”. (HR. Muslim)

Hendaknya seorang muslim berhati-hati nikmat yang terus-menerus dan disertai keadaan tidak mengenal Allah bisa jadi adalah Istidraj (semacam jebakan). Istidraj yaitu Allah berikan dunia kepada seorang hamba, ia hanya bersenang-senang saja akan tetapi hakikatnya Allah sudah tidak peduli kepadanya. Ia hanya akan menunggu balasannya di hari kiamat dan hanya “bersenang-senanglah” sebentar saja.

Contoh Istidraj misalnya seorang hamba memiliki bisnis yang lancar dan omset yang terus meningkat, akan tetapi ia melalaikan shalat. Seorang wanita yang karir dan jabatan terus naik meninggi, akan tetapi ia tidak memakai hijab. Bagaikan seorang ibu yang memberikan gadget pada anak kecilnya kemudia ia berkata “mainlah sepuas nak, seharian”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai istidraj,

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami’ no. 561)

Demikian juga istidraj dalam ayat berikut yang disebut dengan makar Allah,

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 99)

Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi menjelaskan,

مكر الله: هو استدراج العاصي بالنعم… حيث إنهم لم يُقدِّروا الله حق قدره، ولم يخشوا استدراجه لهم بالنعم وهم مقيمون على معصيته حتى نزل بهم سخط الله، وحلت بهم نقمته

“Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan kenikmatan/kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya. Mereka tidak merasa khawatir [tenang-tenang saja] dengan istidraj [jebakan] kenikmatan-kenikmatan bagi mereka, padahal mereka terus-menerus berada dalam kemaksiatan sehingga turunlah bagi mereka murka Allah dan menimpa mereka azab dari Allah.”(Al-Jadid fii Syarhi Kitabit tauhid hal. 306, Maktabah As-Sawadi)

Demikian semoga bermanfaat

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslim.or.id


𝐇𝐚𝐦𝐛𝐚, 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐃𝐨𝐬𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐦𝐩𝐮𝐧𝐚𝐧

 


          Adakah yang bisa menjamin dirinya terlepas dari dosa dalam sehari saja? Mulai dari dosa yang muncul dari mata, telinga, mulut, tangan, kaki, badan, hingga hati yang senantiasa berjibaku dengan nafsu dan godaan setan al-rajīm. Nafsu dan godaan setan merupakan tantangan yang niscaya akan dihadapi oleh setiap anak Adam. Apabila ia sanggup menahan dan mengendalikan setiap keinginan hawa nafsu dan godaan setan, tentu ia akan menang dan memperoleh pahala di sisi Allah. Namun, jika ia kalah dan terjerumus sehingga menjadi budak hawa nafsu dan menuruti godaan setan, maka dosa akan menyelimutinya. Rasulullah ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmiżi no. 2499, Ṣahih al-Targīb 3139)

Hadis ini menggambarkan bagaimana kesalahan (dosa) merupakan perkara yang tidak terlepas dari diri manusia. Akan tetapi, Allah Ta’ala memberikan solusi dan jalan keluar bagi hamba-Nya yang berbuat kesalahan, yaitu bertaubat dan memohon ampunan kepada-Nya.

Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

 يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ

 “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian semuanya melakukan dosa pada malam dan siang hari, padahal Aku Maha mengampuni dosa semuanya. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)

Senada dengan hadis sebelumnya, hadis qudsi ini menggambarkan betapa lemahnya sebagian besar manusia dalam menghadapi setiap dorongan syahwat dan godaan setan sehingga kencenderungannya terhadap kesalahan dan dosa begitu tinggi. Karenanya, Allah Ta’ala membuka lebar pintu ampunan-Nya setiap saat bagi hamba-Nya yang ingin bertaubat.

Pemahaman yang Keliru

“Tenang saja, Allah Maha Pengampun”. Kata hati berbisik saat hendak berbuat dosa.

Pengetahuan tentang pengampunan Allah Yang Maha Luas kadangkala disalahartikan oleh sebagian manusia. Sehingga mereka melakukan dosa-dosa dengan mudahnya disebabkan keyakinannya bahwa Allah akan mengampuni perbuatannya itu.

Terdapat dua kelompok manusia dalam menyikapi dosa dan maksiatnya kepada Allah Ta’ala.

Pertama, Orang awam. Ia tidak mengetahui banyak tentang dalil-dalil yang umum diketahui bahwa Allah maha mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Dengan demikian, ia berputus asa terhadap dosa yang telah ia lakukan. Tidak ada tekad untuk kembali bertaubat, bahkan ia semakin dalam terjerumus ke dalam dosa yang lebih parah –wal ‘iyāżu billāh-. Oleh karenanya, mempelajari ilmu agama amatlah penting bagi setiap hamba Allah sebagaimana sabda Rasulullah ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam,

 طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

 “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah)

Dengan mengetahui ilmu agama, seorang hamba memperoleh jalan yang terang untuk menuju Allah. Setiap tantangan duniawi maupun ukhrawi dapat ia hadapi dengan berpedoman pada ilmu yang telah Allah Ta’ala ajarkan melalui Rasul-Nya ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam. Setiap ia melakukan kekeliruan berupa dosa dan maksiat, ia segera sadar dan kembali mengingat hakikat penciptaan dirinya kemudian bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut dan memperbaikinya dengan amalan saleh.

Kedua, Orang yang mengerti namun salah arti. Dalil-dalil yang menjelaskan luasnya ampunan Allah Ta’ala tentu saja diperuntukkan bagi hamba-hambaNya yang ingin kembali ke jalan yang benar dengan bertaubat dengan taubatan naṣuhā. Bukan pula maksud dalil tersebut sebagai alasan bagi pelaku maksiat untuk kembali ke dalam kubangan dosa sebab keyakinannya bahwa Allah itu Maha Pengampun.

Bukankah banyak kisah nyata yang kita saksikan, seorang yang dikenal salih sepanjang hidupnya namun berakhir tragis di akhir hayatnya dengan kematian yang sū’ul khātimah. Rasulullah ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا

 ” … Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka, maka masuklah dia ke dalam neraka … ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana jika saat orang tersebut sedang melakukan kemaksiatan, tiba-tiba malakul maut datang menjemputnya? Bukankah setiap amalan seorang hamba tergantung pada akhirnya? Rasulullah ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

 “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari)

Allah Ta’ala tidak sesaat pun lalai dari perbuatan orang-orang yang berbuat maksiat kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya,

 وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ

 “ Dan janganlah sekali-kali engkau (Muhammad ) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim … ”  (QS. Ibrahim: 42)

Menggapai Ampunan Allah dengan Amalan Penghapus Dosa

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullāh menyimpulkan tiga hal yang dapat menghapus dosa seorang hamba, yaitu: (1) Taubat, (2) Istigfar, dan (3) Amal Salih. (Lihat Kitab Al-Waṣiyyah Al-Sugrā, hal. 31-32)

Mengenai amal salih yang dapat menghapus dosa, Allah Ta’ala berfirman,

 إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

 “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)” (QS. Hud: 114).

Rasulullah ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 وأتبع السيئة الحسنة تمحها

“Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya”. (HR. Ahmad dan al-Tirmiżi)

Dan banyak dalil-dalil sahih lainnya yang menyatakan jaminan ampunan dari Allah Taala atas hamba-Nya yang bertaubat memohon ampunan-Nya.

Apabila kita merenungi aktivitas kita setiap hari, maka banyak sekali celah untuk melakukan amal salih yang dapat menghapus dosa dan mendapatkan ampunan Allah Taala.

Amalan Harian Penghapus Dosa

Pertama, saat hendak tidur.

Dari Abu Hurairah raḍiya al-lāhu ‘anhu, Rasulullah ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِيْ إِلىَ فِرَاشِهِ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَه ُلَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ للهِ ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ. غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوْبُهُ – أَوْ قَالَ: خَطَايَاه، شكَّ مِسْعَرٌ – وَإِن ْكَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْر)

Barangsiapa hendak menuju kasurnya, dan mengucapkan ‘lā ilāha illā al-lāh wahdahū lā syarīkalahū lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr, subhanalāh, wa al-hamdulillāh, wa lā ilāha illā al-lāh wa al-lāhu akbar’, maka Allah ampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih lautan di dunia ini.” (HR. Ibnu Hibban, Ibnus Sunni)

Kedua, ketika terbangun di malam hari.

 عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من تعار من الليل فقال : لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير الحمد لله وسبحان الله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله ، ثم قال اللهم اغفر لي أو دعا استجيب له فإن توضأ ثم صلى قبلت صلاته

رواه البخاري وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit raḍiya al-lāhu ‘anhu dari Nabi ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam; beliau bersabda, “Barang siapa yang terbangun dari tidurnya pada malam hari, kemudian dia mengucapkan, ‘lā ilāha illā al-lāh wahdahū lā syarīkalahū lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr, al-hamdulillāh wa subhanalāh wa lā ilāha illā al-lāh wa al-lāhu akbar, wa lā haula wa lā quwwata illā billāh kemudian dia berkata ‘Ya Allah, ampunilah aku’ atau dia memanjatkan doa, hal tersebut (istighfar maupun doa itu) akan dikabulkan. Kemudian jika dia berwudhu lalu mendirikan salat, maka salatnya tersebut akan diterima (di sisi Allah).” (HR. Bukhari, Abu Daud, Al-Tirmiżi, Al-Nasa’i, dan Ibnu Majah; Lihat Ṣahih Al-Targīb wa Al-Tarhīb, 1: 149)

Ketiga, langkah kaki menuju masjid.

Dari Abu Hurairah raḍiya al-lāhu ‘anhu, Rasulullah ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

Barangsiapa bersuci di rumahnya, lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban dari kewajiban-kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim no. 666)

Keempat, menyempurnakan wudhu.

Dari Abu Hurairah raḍiya al-lāhu ‘anhu, Rasulullah ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 «أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟» قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ»

 “Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dengan amal tersebut Allah dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab,”Ya, wahai Rasulullah.” 

Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, banyaknya langkah menuju masjid, dan menunggu salat setelah mendirikan salat. Itulah kebaikan (yang banyak).” (HR. Muslim no. 251)

Kelima, melaksanakan shalat lima waktu.

Dari sahabat Abu Hurairah raḍiya al-lāhu ‘anhu, Nabi ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

 “Salat lima waktu dan salat jumat ke salat jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya, selama tidak melakukan dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)

Keenam, dzikir setelah shalat.

Rasulullah ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ سَبَّحَ اللهَ في دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاثاً وَثَلاثِينَ ، وحَمِدَ اللهَ ثَلاثاً وَثَلاَثِينَ ، وَكَبَّرَ الله ثَلاثاً وَثَلاَثِينَ ، وقال تَمَامَ المِئَةِ : لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْر

 “Barangsiapa mengucapkan tasbih (mengucapkan ‘subhānallāh’) di setiap akhir salat sebanyak 33 kali, mengucapkan hamdalah (mengucapan ‘al-hamdu lillāh’) sebanyak 33 kali, bertakbir (mengucapkan ‘Allāhu Akbar’) sebanyak 33 kali, lalu sebagai penyempurna (bilangan) seratus ia mengucapkan ‘lā ilāha illā al-lāh wahdahū lā syarīkalahū lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr (tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)’, maka akan diampuni dosa-dosanya sekalipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim)

Ketujuh, mencari nafkah untuk menghidupi keluarga

‘Aisyah raḍiya al-lāhu ‘anhā berkata,

 دَخَلَتْ امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا تَسْأَلُ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ

“Ada seorang ibu bersama dua putrinya menemuiku meminta makanan, akan tetapi ia tidak mendapati makanan sedikit pun yang ada padaku kecuali sebutir kurma. Maka aku pun memberikan kurma tersebut kepadanya, lalu ia membagi sebutir kurma tersebut untuk kedua putrinya, dan ia tidak makan kurma itu sedikit pun. Setelah itu ibu itu berdiri dan pergi keluar. Lalu masuklah Nabi ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam, aku pun mengabarkannya tentang ini. Lantas beliau bersabda,

 مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

 “Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka” (HR. Bukhari no 1418 dan Muslim no 2629).

Demikian di antara amalan-amalan harian yang mengandung ampunan dari Allah Taala kepada hamba-hamba-Nya yang cenderung pada kemaksiatan. Apabila aktivitas harian tersebut kita niatkan untuk ibadah kepada Allah Ta’ala sebagaimana yang diajarkan oleh baginda Nabi ṣallā al-lāhu ‘alaihi wa sallam, maka insyaallah akan berbuah pahala dan dapat menghapus dosa-dosa. Namun, ada hal yang paling penting untuk diketahui dalam rangka menggapai ampunan Allah Ta’ala Sang Maha Pengampun, yaitu al-tauhīd.

Al-Tauhīd menjadi Syarat Terpenting

Al-Tauhid merupakan syarat mutlak seseorang mendapatkan ampunan dari Allah. Sebab bagaimana bisa seorang hamba menginginkan dosa-dosanya dihapuskan, sementara ia masih berada dalam kubangan kesyirikan, menyekutukan Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)

Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah Ta’ala juga menegaskan keluasan ampunan-Nya atas hamba-hamba-Nya selama tidak menyekutukan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

 يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Wahai anak Adam, jika Engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian Engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.” (HR. Tirmidzi no. 3540)

Akhirnya, semestinya kita sebagai seorang hamba Allah yang lemah kiranya menyadari bahwa luasnya ampunan Allah Ta’ala tersebut diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri dan bertaubat serta tidak mengulangi dosa dan kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala. Namun demikian, jangan pula remehkan sekecil apa pun dosa. Sebab tiada lain yang kita maksiati ketika melakukan perbuatan dosa kecuali Rabb Yang Maha Esa.

Bilal bin Sa’ad berkata,

 لا تنظر إلي صغر المعصية، و لكن انظر من عصيت

 “Janganlah Engkau melihat kecilnya maksiat, tetapi lihatlah kepada siapa Engkau bermaksiat.” (Al-Dā’ wa  al-Dawā’ hal. 82)


    Wallahu A'lam bish Shawaab

    Penulis: Fauzan Hidayat, S.STP., MPA

    Artikel: Muslim.or.id




    ۞ MEDIA - SOSIAL ۞