Pendapat
pertama yang menyatakan bahwa pesantren berasal dari tradisi Hindu
berargumen bahwa dalam dunia Islam tidak ada system pendidikan pondok
dimana para pelajar menginap di suatu tempat tertentu disekitar lokasi
guru. I.J. Brugman dan K. Meys yang menyimpulkan dari tradisi pesantren
seperti; penghormatan santri kepada kiyai, tata hubungan keduanya yang
tidak didasarkan kepada uang, sifat pengajaran yang murni agama dan
pemberian tanah oleh Negara kepada para guru dan pendeta. Gejala lain
yang menunjukkan azas non-Islam pesantren tidak terdapat di
Negara-negara Islam.
[2]
Pendapat
kedua yang menyatakan bahwa system pondok pesantren merupakan tradisi
dunia Islam menghadirkan bukti bahwa di zaman Abasiah telah ada model
pendidikan pondokan. Muhammad Junus, misalnya mengemukakan bahwa model
pembelajaran individual seperti sorogan, serta system pengajaran yang
dimulai dengan baljar tata bahasa Arab ditemukan juga di Bagdad ketika
menjadi pusat ibu kota pemerintahan Islam. Begitu juga mengenai tradisi
penyerahan tanah wakaf oleh penguasa kepada tokoh religious untuk
dijadikan pusat keagamaan.
[3]
Terlepas
dari perbedaan para pakar mengenai asal tradisinya, pesantren merupakan
lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Bahkan kita bisa mengatakan
bahwa pesantren adalah warisan budaya para pendahulu. Jika pun tradisi
pesantren berasal dari Hindu-India atau Arab-Islam, bentuk serta corak
pesantren Indonesia memiliki ciri khusus yang dengannya kita bisa
menyatakan bahwa pesantren Indonesia adalah asli buatan Indonesia,
indigenous.
Sebagaimana
telah diketahui bersama bahwa sejarah pesantren setua sejarah
penyebaran Islam di Indonesia. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah
siapa tokoh yang pertama kali mengakflikasikan system pendidikan
pesantren di Indonesia? Nama Maulana Malik Ibrahim pioneer Wali Songo
disebut sebagai tokoh pertama yang mendirikan pesantren.
Maulana
Malik Ibrahim atau lebih terkenal sebagai Sunan Gresik adalah seorang
ulama kelahiran Samarkand, ayahnya Maulana Jumadil Kubro keturunan
kesepuluh dari Husein bin Ali. Pada tahun 1404 M, Maulana Malik Ibrahim
singgah di desa Leran Gresik Jawa Timur setelah sebelumnya tingal selama
13 tahun di Champa.
Perjalanan
Maulana Malik Ibrahin dari Champa ke Jawa adalah untuk mendakwahkan
agama Islam kepada para penduduknya. Di Jawa, beliau memulai hidup
dengan membuka warung yang menjual rupa-rupa makanan dengan harga murah.
Untuk melakukan proses pendekatan terhadap warga, Maulana Malik Ibrahim
juga membuka praktek ketabiban tanpa bayaran. Kedermawanan serta
kebaikan hati, pedagang pendatang ini membuat banyak warga bersimpati
kemudian menyatakan masuk Islam dan berguru ilmu agama kepadanya.
Pengikut
Sunan Gresik semakin hari semakin bertambah sehingga rumahnya tidak
sanggup menampung murid-murid yang datang untuk belajar ilmu agama
Islam. Menyadari hal ini, Maulana Malik Ibrahim yang juga dikenal
sebagai Kakek Bantal mulai mendirikan bangunan untuk murid-muridnya
menuntut ilmu. Inilah yang menjadi cikal bakal pesantren di Indonesia.
[4]
Meski
begitu, tokoh yang dianggap berhasil mendirikan dan mengembangkan
pesantren dalam arti yang sesungguhnya adalah Raden Rahmat atau Sunan
Ampel. Ia mendirikan pesantren pertama di Kembang Kuning kemudian pindah
ke Ampel Denta, Surabaya dan mendirikan pesantren kedua di sana.
[5] Dari
pesantren Ampel Denta ini lahir santri-santri yang kemudian mendirikan
pesantren di daerah lain, diantaranya adalah Syekh Ainul Yakin yang
mendirikan pesantren di desa Sidomukti, Selatan Gresik dan Maulana
makdum Ibrahim yang mendirikan pesantren di Tuban.
[1] MU YAPPI, Manajemen…, hal.26.
[2] H. Rohadi dkk, Rekontruksi…, hal.13.
[3] MU YAPPI, Manajemen…, hal.28.
[4] LIhat, Budiono Hadi Sutrisno, Sejarah Walisongo, hal. 19-20.
[5] LIhat, H. Rohadi dkk, Rekontruksi…, hal.14.
Sumber : http://bambumoeda.wordpress.com/2011/06/24/sejarah-pesantren-di-indonesia/
0 komentar:
Posting Komentar